Welcome To My Blog . . .
Selamat Datang di Blog Sederhana ini . . .
Blog ini di dirikan sejak tahun 2010 oleh Nur Muhammad Fhadly, seorang biasa tetapi memiliki impian yang luar biasa . . .

Laman

Sabtu, 02 April 2011

Sifat terpuji yang harus di miliki seorang pria dan wanita.

wanita, perempuan atau cewek merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling indah dan paling Anggun di mata seorang pria, laki-laki atau cowok. itulah menurut ku. tapi sayang sekali, berdasarkan pengamatan ku selama ini, aku agak kecewa dengan sifat wanita yang sudah sangat menurun kualitasnya.

sebelumnya aku minta maaf apabila ada yang tersinggung dengan catatan ku ini. tapi ini memang kenyataan dan mungkin kalian bisa melihatnya sendiri walaupun tidak semua orang bisa merasakannya atau melihatnya.

sebelumnya perkenalkan, aku biasa di panggil dengan nama Fadly. dan aku selalu menggunakan armada transportasi yang bernama Angkot atau di Medan biasa di panggil dengan nama Sudako. hasil pengamatan ku ini berhasil ku lakukan karena aku selalu mendapatkan segala sesuatu sumber pengamatan ku karena berkat perjalanan dari transportasi ku ini.

jadi, kita langsung saja masuk ke inti dari pembahasan materi ini. setelah selama 5 tahun aku bergabung di dunia transportasi yang bernama Sudako, aku melihat betapa mengerikan kehdupan saat ini. di dalam setiap perjalanan ku, aku melihat, betapa mudahnya seorang wanita di pegang atau di peluk pinggangnya oleh seorang pria di depan umum. dan yang lebih gilanya lagi, semua ini di lakukan oleh hampir semua remaja. apakah hal ini pantas di lakukan di depan publik ??? lumayan yang di pegang itu adalah tangannya, atau hanya saling bergandengan tangan. aku langsung berfikir, "astaga, betapa murahan dua orang ini. masih pacaran saja sudah seperti ini, apakah dengan seperti ini mereka akan yakin pasti menikah di kemudian hari nanti ???" kenapa aku berfikir seperti ini ??? aku seperti ini karena aku kasihan melihat perempuannya. apa dia gak pernah berfikir apa yang akan di fikirkan orang tentang tingkahnya ini ??

kalo di tegur, biasanya orang-orang seperti ini dengan mudahnya menjawab, "ini uda jaman modern, jadi uda gak ada batas antara laki-laki dan perempuan."

aku mohon kepada kalian, khususnya para wanita (yang belum menilkah). aku harap kalian bisa menjaga harkat, derajat dan martabat kalian sebagai wanita sebaik mungkin. dan bagi teman-teman ku yang pria, jagalah dan hormatilah pujaan hati kalian sebaik mungkin, karena dengan begitu, maka anda juga akan di hormati di depan publik saat anda sedang bersama CINTA pilihan anda.



Berikut ini adalah sifat terpuji yang harus di miliki seorang wanita.

1. Hati yang tinggi, seorang wanita harus memiliki sifat seperti ini dengan maksud agar tidak mudah jinak dan terpengaruh layaknya seperti burung merpati yang mudah jinak begitu saja.

2. Tangan yang tertutup, hal ini bertujuan apabila sudah menjadi istri agar tidak berprilaku hidup boros dan juga agar bisa menjaga harta milik suami yang di dapatkan dari hasil kerja keras.

3. Tidak bertindak sebelum berkonsultasi dengan pasangan, hal ini di lakukan apabila telah menikah karena ini merupakan sebuah komitmen di dalam hubungan pernikahan.



Dan berikut ini adalah sifat terpuji yang harus di miliki seorang pria.

1. Hati yang rendah, tidak somong, tidak ego dan agar dapat memahami perasaan pasangannya.

2, Tangan yang ringan, tujuannya ialah agar suka membantu dan bekerja keras.



mungkin sampai di sini dulu catatan saya. dan apabila ada yang keberatan dengan catatan saya ini, silahkan beri komentar dan berikan di bagian mana anda merasa keberataanya.

Rabu, 02 Februari 2011

Ah, Teori!

Kawan saya, seorang aktivis dan feminis laki-laki, suatu ketika menulis di sebuah media massa nasional mengenai poligami. Dalam tulisan itu, ia nampak begitu bersemangat menentang poligami yang menurutnya lebih banyak mendatangkan mudharat ketimbang manfaat. Dengan mengutip berbagai sumber dan referensi, kawan saya ini menyimpulkan bahwa poligami sering menjadi bencana dalam kehidupan rumah tangga, terutama bagi anak-anak. Ia mengecam Puspo Wardoyo yang menyelenggarakan Poligami Award. Ia juga mengatakan bahwa orang yang berpikiran seperti Puspo itu hanyalah sebagian kecil umat. Bagaimana dengan kemungkinan ia sendiri akan berpoligami? “Maaf sajalah, saya terlalu mencintai istri dan anak-anak saya,” demikian kawan saya menutup tulisannya.

Akan tetapi, itu dulu. Tiga setengah tahun lalu. Kenyataannya, kawan saya itu kini malah berpoligami dengan menikahi seorang wanita yang berusia hampir separuh usianya. Ia pun kini tengah disibukkan untuk menjawab berbagai pertanyaan yang datang bertubi-tubi kepadanya.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan kawan saya ini? Sampai saat ini saya belum mendapatkan keterangan yang jelas darinya. Namun, sebetulnya ini adalah fenomena yang sangat biasa. Bukankah kita sering melihat orang yang mengatakan sesuatu pada suatu waktu, tapi kemudian melakukan hal yang bertentangan di waktu lain? Bukankah lidah memang tak bertulang?

Ada banyak sekali contoh yang dapat kita sebutkan. Bukankah kita sering mendengar mengenai guru mengaji yang sangat memahami agama, tapi kemudian melecehkan anak didiknya sendiri? Bukankah ada seorang yang hafal isi kitab suci tapi malah dipenjara karena kasus korupsi? Bukankah banyak aktivis dan pengamat yang berubah begitu ia diangkat menjadi pejabat? Bagaimana kita bisa menjelaskan seorang kriminolog yang dipenjara karena tindakan kriminal? Bagaimana kita dapat menjelaskan kasus dua menteri (yang kini sudah diganti) yang melakukan tindakan mencederai hukum padahal mereka adalah ahli hukum, pejabat di bidang hukum, aktivis prodemokrasi dan antikorupsi, bahkan sering juga bertindak sebagai dai?

Mengapa yang kita lakukan sering berbeda dari apa yang kita katakan?

Menurut saya, penyebabnya ada empat hal. Pertama, ada perbedaan yang begitu besar antara mengatakan dan melakukan. Mengatakan sesuatu menunjukkan pengetahuan Anda, padahal pengetahuan sering tak berdampak pada perubahan perilaku. Untuk bisa mengubah perilaku, yang diperlukan adalah kesadaran. Orang berubah bukan karena mereka tahu, tetapi karena mereka sadar.

Cobalah lihat contoh-contoh dalam kehidupan Anda sehari-hari. Bukankah banyak orang yang tahu bahaya merokok, tetapi tetap merokok? Bukankah banyak orang yang tahu pentingnya mengenakan sabuk pengaman, tapi tetap tidak menggunakannya? Tahu pentingnya berolah raga, tetapi tak pernah melakukannya?

Ketika kita berkata-kata, kita sebenarnya belum mencapai tingkat kesadaran. Kita baru sekadar mengetahuinya. Itulah sebabnya, kata-kata sering berbeda dari perbuatan. Kesadaran baru akan kita dapatkan kalau kita mengalaminya. Inilah rahmat tersembunyi yang kerap kita dapatkan dari musibah. Musibah dapat menyadarkan kita dan membuka kesadaran kita yang paling dalam. Orang yang telah sadar pastilah akan berubah.

Kedua, ketika kita berkata-kata, kita sering membayangkan kondisi yang ideal. Kita lupa bahwa situasi di lapangan bisa sangat berbeda. Seorang ilmuwan yang berteori mengenai korupsi barulah berbicara pada tataran ideal. Ia sebetulnya belum tahu apa-apa mengenai korupsi sampai ia sendiri merasakan menjadi pejabat. Ia berteori dalam lingkungan tenang, padahal lingkungan yang sebenarnya sangat bergejolak dan penuh godaan.

Alasan ketiga adalah karena kita cenderung merasa bahwa tugas kita sudah selesai begitu kita mengatakannya. Kita seakan-akan telah menjadi orang yang baik dengan mengatakan sesuatu mengenai kebaikan. Kita merasa menjadi orang yang bersih dengan mendengang-dengungkan sikap antikorupsi. Kita merasa menjadi pasangan yang setia dengan membuat pernyataan bahwa kita tak akan berselingkuh.

Padahal, di sinilah letak bahayanya. Semua pernyataan dan sikap kita itu sebenarnya barulah berupa teori belaka. Belum ada bukti sama sekali bahwa kita akan melakukan apa yang kita katakan itu. Namun dengan mengatakan hal itu, kita sering menganggap diri kita berada di posisi aman. Ini sering membuat kita lemah dan tidak siap. Kita lupa bahwa sebagai manusia, kita bisa salah. Bukankah kita senantiasa memiliki kecenderungan-kecenderungan duniawi? Kita bahkan bisa menjadi seburuk orang yang kita kritik. Kita selalu berpeluang melakukan perbuatan yang kita benci sekalipun.

Alasan keempat, di dalam diri manusia sebenarnya berkembang kekuatan-kekuatan yang saling bertolak belakang. Semakin kita membenci sesuatu, sebetulnya kita semakin memasukkan sesuatu itu ke dalam pikiran kita. Karena itu, sering ada kekuatan-kekuatan tersembunyi dalam diri kita yang justru menginginkan apa yang kita benci tersebut. Keinginan-keinginan ini muncul secara sangat halus dan samar-samar sehingga kita sering tidak menyadarinya. Ketika teman saya itu membenci poligami, jauh di lubuk hatinya yang terdalam telah tumbuh keinginan untuk mencoba poligami. Itulah sebabnya, orang bijak sering mengatakan agar kita menyukai dan membenci sesuatu dengan sekadarnya.

Tulisan ini pun saya cukupkan sampai di sini. Saya ingin segera berkomtemplasi, merenung dan mencermati diri saya sendiri. Jangan-jangan saya juga pernah mengatakan apa yang tidak saya lakukan. Jangan-jangan saya pun melakukan apa yang sebenarnya saya benci. Jangan-jangan saya hanya berteori. Padahal, saya tahu bahwa saya tidak akan pernah berhasil mengubah orang lain sebelum mengubah diri saya sendiri. Selain itu, saya juga takut kalau Anda yang membaca tulisan-tulisan saya kemudian mengatakan, “Ah, teori!”

Prev: Republika, Minggu, 7 Oktober 2008 [SELISIK] Antara Memaafkan dan Kebahagiaan ------------ --------- --------- -- ---Anwar Holid

Jumat, 31 Desember 2010

Sebuah Definisi Cinta

Dua sahabat wanita bertemu sesudah bertahun-tahun terpisah. “Bagaimana kabar putramu?” tanya yang satu.
”Putraku? Kasihan dia!” jawab yang lain mengeluh. ”Ia menikah dengan seorang gadis yang tak mau bekerja sedikit pun: tak mau memasak, mencuci dan membereskan rumah. Yang dilakukannya hanya makan dan tidur. Anakku yang malang bahkan harus mengantar sarapannya ke tempat tidur. Apa kamu bisa percaya itu?”

”Kasihan! Dan bagaimana putrimu?”
”Oh, ia itu sungguh beruntung! Ia menikah dengan malaikat yang tak membiarkannya mengerjakan apa pun. Ia punya banyak pembantu untuk memasak, mencuci dan membereskan rumah. Dan setiap pagi suaminya mengantarkan sarapan ke ranjang. Yang ia kerjakan hanyalah tidur, beristirahat dan bersantai-santai sepanjang hari.

Para pembaca yang budiman, apa pendapat Anda mengenai cerita di atas? Ternyata, sesuatu yang persis sama dapat dilihat dari sudut pandang yang sama sekali berbeda tergantung pada posisi dan kepentingan kita sendiri. Kita memang cenderung mementingkan diri sendiri dan selalu melihat sesuatu dari kepentingan kita. Bahkan, baik- buruk suatu peristiwa sangat tergantung pada terganggu-tidaknya kepentingan kita. Inilah sumber segala permasalahan yang kita hadapi.

Perubahan yang besar, revolusioner dan menakjubkan akan terjadi begitu kita mampu melihat sebuah masalah dari sudut pandang orang lain, terutama dari sudut pandang pihak-pihak yang berseberangan dengan kita. Inilah definisi saya mengenai cinta. Menurut saya, cinta adalah kemampuan kita melihat dari sudut pandang orang lain, merasakan apa yang dirasakan orang lain, bahkan menghayati suasana kehidupan orang lain.

Definisi ini sangat sederhana, tetapi amat sulit dipraktikkan. Yang pertama harus kita kalahkan adalah ego. Kita sering menganggap penderitaan kita sebagai masalah terpenting di dunia. Misalnya, Anda sedang menderita sakit gigi, sementara di saat yang bersamaan banyak orang yang tertimpa musibah banjir, tanah longsor, gempa bumi, dan sebagainya. Pertanyaannya, masalah apakah yang menurut Anda paling penting? Tentu, sakit gigi Anda, bukan?

Jadi, pertama-tama, kita harus menyadari kecenderungan kita yang selalu menganggap masalah kita sendiri sebagai masalah terpenting. Hal ini tak akan pernah melahirkan cinta. Cinta hanya dapat lahir dari kesadaran bahwa masalah yang dihadapi orang lain juga amat sangat penting. Kita harus mampu merasakan, menyelami dan menghayati situasi orang lain. Kemampuan inilah yang saya sebut dengan cinta.

Kalau Anda memiliki masalah dengan bawahan, cobalah bayangkan diri Anda yang berada pada posisinya. Pasti Anda akan menemukan berbagai kejutan yang mencerahkan. Suatu pekerjaan yang sangat sederhana bagi Anda, bagi bawahan mungkin membutuhkan waktu berjam-jam untuk memikirkannya. Kalau Anda memiliki masalah dengan atasan, cobalah tempatkan diri Anda di posisinya. Boleh jadi, atasan Anda sedang menghadapi tekanan yang hebat dari atasannya lagi yang membuatnya begitu tertekan.

Kalau Anda memiliki masalah dengan pasangan, cobalah bayangkan kalau Anda bertukar posisi. Lihatlah masalah dari sudut pandang pasangan Anda. Saya yakin, Anda akan lebih menghargai, mencintai dan memaafkannya. Begitu juga dengan pembantu Anda di rumah. Beberapa waktu lalu, pembantu saya kehilangan saudaranya yang sangat ia sayangi yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Ia sangat bersedih, sebentar-sebentar air matanya menetes. Ia benar-benar merasa kehilangan dan sangat sulit memercayai kejadian tersebut. Saya bisa berempati, merasakan apa yang ia rasakan, dengan cara masuk ke dalam situasinya. Saya bukannya membayangkan apa yang terjadi bila salah seorang saudara saya meninggal dunia. Situasi seperti itu tidak pararel dan tidak akan seimbang dengan apa yang ia alami. Alih-alih, saya membayangkan diri saya yang sedang bekerja jauh dari rumah, di sebuah tempat yang relatif asing bagi saya. Saya merasakan betapa beratnya merasakan duka sendirian di perantauan, di mana kita tak memiliki kesempatan yang cukup untuk berbagi perasaan dengan orang-orang terdekat kita.

Dengan melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain, kita akan senantiasa diliputi perasaan cinta dan belas kasih yang tak pernah putus. Kita juga akan merasa bahwa sesungguhnya – terlepas dari begitu besarnya perbedaan di antara kita – kita adalah satu. Kita benar-benar merupakan suatu kesatuan. Inilah yang disebut cinta dan inilah sebenarnya hakikat spiritualitas.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan cerita menarik. Ini tentang seorang anak SD yang miskin bernama Joni yang hanya memiliki seorang sahabat di kelasnya. Joni sering diejek dan dihina teman-temannya. Suatu ketika menjelang ulang tahun Joni, sahabatnya membayangkan betapa hari itu akan merupakan hari yang paling menyedihkan bagi Joni. Betapa tidak, tak ada orang yang akan mengucapkan selamat ulang tahun. Tak ada kue ulang tahun, tak ada hadiah, tak ada yang peduli. Karena itu, si sahabat menceritakan hal ini kepada ibunya dengan harapan sang ibu dapat menolongnya.

Dan di hari berbahagia itu, sang ibu membuat kejutan. Ia muncul di pintu kelas anaknya sambil membawakan kue dengan lilin yang menyala, menyanyikan lagu ulang tahun kemudian menyalami Joni yang hanya tertegun meneteskan air mata menyaksikan kejutan tersebut. Berpuluh tahun kemudian peristiwa ini dikenang sahabatnya sebagai salah satu peristiwa yang paling indah dalam hidupnya. Ia mengatakan, ”Aku hampir tak bisa mengingat lagi nama teman-temanku yang ikut merayakan ulang tahun itu. Aku pun tak tahu lagi di mana Joni sekarang berada. Tapi setiap kali aku mendengar lagu yang sangat kukenal itu, aku ingat hari itu, saat nada-nadanya berbunyi sangat indah: di dalam suara Mama yang lembut, cahaya dalam mata seorang anak laki-laki dan kue yang paling manis.”

Kamis, 25 November 2010

Anjing dan Bayangannya

Seekor anjing yang mendapatkan sebuah tulang dari seseorang, berlari-lari pulang ke rumahnya secepat mungkin dengan senang hati. Ketika dia melewati sebuah jembatan yang sangat kecil, dia menunduk ke bawah dan melihat bayangan dirinya terpantul dari air di bawah jembatan itu. Anjing yang serakah ini mengira dirinya melihat seekor anjing lain membawa sebuah tulang yang lebih besar dari miliknya.
Bila saja dia berhenti untuk berpikir, dia akan tahu bahwa itu hanyalah bayangannya. Tetapi anjing itu tidak berpikir apa-apa dan malah menjatuhkan tulang yang dibawanya dan langsung melompat ke dalam sungai. Anjing serakah tersebut akhirnya dengan susah payah berenang menuju ke tepi sungai. Saat dia selamat tiba di tepi sungai, dia hanya bisa berdiri termenung dan sedih karena tulang yang di bawanya malah hilang, dia kemudian menyesali apa yang terjadi dan menyadari betapa bodohnya dirinya.

Sangatlah bodoh memiliki sifat yang serakah

Jumat, 19 November 2010

Keledai dan Garam Muatannya

Seorang pedagang, menuntun keledainya untuk melewati sebuah sungai yang dangkal. Selama ini mereka telah melalui sungai tersebut tanpa pernah mengalami satu pun kecelakaan, tetapi kali ini, keledainya tergelincir dan jatuh ketika mereka berada tepat di tengah-tengah sungai tersebut. Ketika pedagang tersebut akhirnya berhasil membawa keledainya beserta muatannya ke pinggir sungai dengan selamat, kebanyakan dari garam yang dimuat oleh keledai telah meleleh dan larut ke dalam air sungai. Gembira karena merasakan muatannya telah berkurang sehingga beban yang dibawa menjadi lebih ringan, sang Keledai merasa sangat gembira ketika mereka melanjutkan perjalanan mereka.
Pada hari berikutnya, sang Pedagang kembali membawa muatan garam. Sang Keledai yang mengingat pengalamannya kemarin saat tergelincir di tengah sungai itu, dengan sengaja membiarkan dirinya tergelincir jatuh ke dalam air, dan akhirnya dia bisa mengurangi bebannya kembali dengan cara itu.
Pedagang yang merasa marah, kemudian membawa keledainya tersebut kembali ke pasar, dimana keledai tersebut di muati dengan keranjang-keranjang yang sangat besar dan berisikan spons. Ketika mereka kembali tiba di tengah sungai, sang keledai kembali dengan sengaja menjatuhkan diri, tetapi pada saat pedagang tersebut membawanya ke pinggir sungai, sang keledai menjadi sangat tidak nyaman karena harus dengan terpaksa menyeret dirinya pulang kerumah dengan beban yang sepuluh kali lipat lebih berat dari sebelumnya akibat spons yang dimuatnya menyerap air sungai.

Cara yang sama tidak cocok digunakan untuk segala situasi.